MARI PESIMIS!
Hidup hanya menunda kekalahan, dan tahu, bahwa ada yang tak sempat terucapkan…TINTA BERMORAL
Begini, kalau tidak salah 3 minggu yang lalu kejadian ini tergelar. Waktu itu saya sedang presentasi makalah pada mata kuliah Agama dan Pendidikan. Makalah saya itu bertemakan tentang moral manusia dalam perspektif pendidikan. Terus terang, saya tidak ikut membuat makalah tersebut. Saya hanya numpang nyontong tok. Isi makalah itu pun saya baru tahu pada hari itu.
Kami (saya dan kelompk saya) sepakat bahwa mata pelajaran “moral” (PMP, PPKN, etc..) tidak diajarkan pada siswa maupun mahasiswa. Tentu saja itu nyeleneh. Kontroversi pun melekat pada makalah tersebut. Tapi kami bukan tidak punya argumen atau sekedar bacot tok. Asumsi kami ialah:
Read the rest of this entry »
ETIKA BARU PERBUDAKAN BURUH: MAYDAY!
Kalau Indonesia merayakan perubahan, ada banyak pertanyaan yang mengiringinya. Siapa yang mengawali perubahan itu? Bagaimana prosesnya kelak? Mau kemana perubahan itu dibawa?
1 Mei 2008 esok, kembali, sebuah titimangsa pagelaran akbar dari rakyat kelas pekerja dirayakan. Pada hari itu pula, segenap aktifis dan massa pergerakan, buruh-buruh pabrik dan rakyat miskin kota berlomba meneriakkan apa yang selama ini mereka impikan: kesejahteraan. Bersanding dengan megatruh yang mengintai disekeliling mereka, dengan segenap gundah yang membuncah, yang pahit tak tertahankan, mereka menjelma menjadi subyek aktif dengan penuh prakarsa: sekali lagi, menuntut kesejahteraan.
Kita pun mengingat kembali tanggal 1 Mei nanti dengan apa yang telah dilakukan Peter Mcguire pada tahun 1872 di Amerika Serikat. Mcguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey, yang dengan keringat deras meluluri tubuhnya mengajak 100.000 massa pekerja melakukan aksi mogok menuntut pengurangan waktu kerja. Ia pun menderu, melobi, berbicara kesana kemari. Dari pekerja sampai pengangguran, pemerintah kota sampai bos-bos pabrik, menuntut diadakannya kebijakan: pekerjaan dan uang lembur. Aksinya tersebut, tak ayal menimbulkan berbagai kecaman yang membuatnya terkenal. Dengan sebuah pengerucutan kesimpulan baginya: Ia dianggap sebagai biang pengganggu ketentraman masyarakat.
Read the rest of this entry »
R E V O L U S I ! ! !
Revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa.
Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang membangun revolusi, mempercepat atau memimpinnya menuju ke kemenangan, tetapi ia tidak dapat menciptakan dengan otaknya sendiri.Revolusi ialah yang disebabkan oleh pergaulan hidup, satu hakekat tertentu dari perbuatan-perbuatan masyarakat.
Jika Diponegoro dilahirkan di Barat dan menempatkan dirinya di muka satu revolusi dengan sanubarinya yang suci itu, boleh jadi akan dapat menyamai perbuatan-perbuatan Crommwell atau Garibaldi. Tetapi ia menolong perahu yang bocor, kelas yang akan lenyap.
Jika sekiranya pulau Jawa mempunyai borjuasi nasional yang revolusioner dan Diponegoro dalam perjuangannya melawan Mataram dan Kumpeni pastilah ia akan berdiri di sisi borjuasi itu.Pengupasan yang cocok betul atas masyarakat Indonesia syarat terutama untuk mendapat perkakas revolusi, dan itu pulalah yang menjadi syarat pertama yang mendatangkan kemenangan revolusi kita.
Revolusi Indonesia sebagian kecil menentang sisa-sisa feodalisme dan sebagian yang terbesar menentang imperialisme Barat yang lalim ditambah lagi oleh dorongan kebencian bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang menggencet dan menghinakan mereka.
Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.
Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putch atau anarchisme hanyalah impian seorang yang lagi demam. Jika kita mau mengumpulkan dan memusatkan tenaga-tenaga revolusioner di Indonesia dengan jalan massa aksi yang tersusun buat merantapkan kemerdekaan nasional, tentulah kita mesti mempunyai satu partai yang revolusioner.
Partai mesti berhubungan rapat dengan massa terutama dalam saat yang penting, dengan segala golongan Rakyat dari seluruh kepulauan Indonesia. Dengan tidak berhubungan seperti itu, tak akan ada pimpinan yang revolusioner. Dengan jalan revolusi dan perang kemerdekaan nasional-lah (yang dapat dimasukkan ke dalam revolusi sosial!!!), maka sekalian negeri besar-besar yang modern, tidak ada kecualinya, dapat melepaskan diri dari kungkungan kelas dan penjajahan.
Revolusilah, yang bukan saja menghukum, sekalian perbuatan ganas, menentang kecurangan dan kelaliman, tetapi juga mencapai sekalian perbaikan bagi yang buruk.
Di dalam masa revolusilah tercapainya puncak kekuatan moril, terjadinya kecerdasan pikiran dan memperoleh segenap kemampuan untuk pendirian masyarakat baru.
Satu kelas atas satu bangsa yang tidak mampu melemparkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan dengan perantaraan revolusi, niscaya musnah atau ditakdirkan menjadi budak buat selama-lamanya.
Revolusi itu menciptakan!!
(Datuk Ibrahim Tan Malaka)
AYO BABAT SEKOLAH!
Andai ada mesin pencetak manusia multifungsi tanpa kenal usang, anda boleh sepakat dengan 7 abjad ini: SEKOLAH! Sekolah, seperti yang kita kenal ialah traktat penerabas fenomena involutif alam pikiran manusia. Berasal dari kata Latin skhole yang berarti ‘waktu senggang’, sekolah kini menjadi barang dengan probabilitas yang tak bisa ditawar lagi. Ia begitu dipuja. Dinikmati. Diagung-agungkan. Disembah, barangkali.
Tapi, dibalik kebanggaan kita dengan sekolah, ternyata banyak juga yang beranggapan bahwa sudah saatnya manusia terbebas dari sekolah. Kalau di sebelah anda sekarang ada Roem Topatimasang, pastilah dia akan tersenyum-senyum. Ya, lelaki itulah yang pernah menggegerkan jagat pendidikan Indonesia lewat sebuah pamflet Illichian-nya yang begitu syahdu menggelegar: Sekolah Itu Candu!. Roem membabat habis kesakralan identitas sekolah saat ini dalam bukunya tersebut. Baginya, sekolah sekarang tak hanya layak didedah, tapi juga patut diganyang.
Read the rest of this entry »
SUDISMAN TIDAK SUKA MENANGIS
Sudisman, anggota Polit biro CC PKI, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Mahmilub tahun 1967 dengan tuduhan terlibat peristiwa 1965. Di tahun itu juga ia dieksekusi. Hanya Sudisman yang menjalani proses pengadilan dari 5 pucuk pimpinan PKI. Yang lain lenyap tak tentu rimbanya. Bagaimana mati dan kuburnya pun tak terpastikan. Di samping itu ratusan ribu warganegara Indonesia yang tak pernah diadili dan dibuktikan bersalah: baik anggota, simpatisan maupun yang diduga ada hubungan dengan PKI, dibantai, dipenjarakan, atau dibuang ke Pulau Buru. Pada minggu pertama Oktober 1965, 5 dari pucuk pimpinan PKI, cuma Sudisman yang berada di Jakarta sementara 3 orang ada di Jawa Tengah : Aidit, Lukman dan Sakirman sedangkan Nyoto di Sumatra Utara.
Sudisman sendiri sempat melewati masa pelarian dan sembunyi. Pada masa pelarian inilah, ia berhasil membuat Pledoi atau KOK partai. Pledoi Sudisman yang mengatasnamakan Polit Biro CC PKI sendiri diselesaikan di Jawa Tengah, Bulan September 1966. Pledoi Sudisman ini juga dianggap telah mengakhiri pertentangan dalam faksi-faksi PKI akibat G 30 S yang gagal.
Dalam Pledoi itu Sudisman menyatakan:
Read the rest of this entry »
AN ATHEIST
Sering saya meminggirkan khayal untuk menjadi seorang bapak nantinya. Berumah tangga. Mengurus bayi dan menjadi mertua. Apa iya sepanjang itu? Dan kini, tepatnya sore tadi khayal itu datang menyerbu. Saya tak bisa menyanggahnya kali ini: saya memang membutuhkan khayalan seperti itu. Setidaknya sekali-kali.
27 Desember 2007. Ini lusa setelah Yesus, Putra Allah mati. Suara-suara gemerlap dari katedral-katedral kapitalisme pun bersahutan. Santa Klaus terjerembab dengan rusa-rusanya. Tapi, tak satu pun orang meratapi bencana yang kian mesra dengan kita. Keakbaran Tuhan kini dipertaruhkan lewat pertarungan identitas. Sang Atheis muncul untuk kemudian berpendar.
Read the rest of this entry »
RADIKALISASI DOSIS TINGGI
Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja.
Bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, kita lebih mengenalnya dengan nama nama Sneevliet. Ia lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Proses berpolitiknya dimulai ketika tahun 1901, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Belanda. Akhirnya, pada usia 20–an, dia mulai berkenalan dengan gelanggang politik. Ia bergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland hingga tahun 1909, yakni sebagai anggota Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911.
Read the rest of this entry »
HIKAYAT BEGUNDAL-BEGUNDAL KOMUNIS
Organisasi organisasi pemuda banyak bermunculan pascaproklamasi 17 Agustus 1945. Yang pertama sekali dibentuk bernama Angkatan Pemuda Indonesia (API). Organisasi ini dipimpin oleh seorang pemuda bernama Wikana, seorang sosialis. Ia memiliki seorang assisten bernama DN Aidit.
Sebagai sebuah organisasi yang dipimpin seorang sosialis komunis, tak heran jika di tubuh API sering disuntikkan propaganda-propaganda komunisme. Pada 9-11 November 1945, API mengadakan kongres pertama mereka di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri hampir seluruh organisasi kepemudaan dari seluruh Indonesia. Di sana, baik Wikana maupun Aidit mengajak seluruh organisasi pemuda untuk bergabung menjadi satu organisasi kepemudaan baru. Nantinya organisasi ini dikenal dengan nama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Tercatat enam organisasi setuju melebur menjadi Pesindo. Mereka adalah API sendiri, Pemuda Republik Indonesia (PRI), Angkutan Muda Republik Indonesia (AMRI), Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI), Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dan Angkatan Muda Pos, Tilpun dan Telegrap (AMPTT). Satu organisasi yang menolak bergabung adalah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).
Read the rest of this entry »
AKU TAHU KAU TAK KEMANA, SHA
Apa yang kupikirkan sekarang disana, Sha? Telah selang 4 tahun kau pergi meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dengan seonggok kesedihan yang entah kapan berujung. Sedang apa kau disana, Sha?
Kau ingat, tanggal inilah nafasmu terlantun merdu untuk terakhir kali. Begitu pula dengan doa yang kusulurkan untukmu. Ditelingamu kubisikan sebait cinta, dengan lelehan air mata yang sendu. Dengan senyuman yang palsu. Dengan rintihan tentang apa itu rasanya tidak percaya: kau pergi meninggalkanku. Tepat hari ini, Sha.
Disini, dalam hati, masih segar kuingat bagaimana bulan sabit mengghadiahi kita sebingkis kado romantis.
* * * * * *
Read the rest of this entry »
KAU TAK PERLU SENJA, SHA
Kalau memang Jakarta hidup dan matiku
Maka itu tak mengapa, sebab ada engkau
Yang memilah
Menyesap
Menunggu
Menyatu
Hingga tiba kita melaju
Kalau memang Jakarta tempatku labuh
Itu akan lebih baik
Sebab ada engkau disana
Yang buatku kasmaran setiapnya
Buatku jatuh cinta sediakala
Dan sejak itu, aku tak perlu lagi berandai
Sebab ada engkau disana
Ada engkau disana
Ada engkau disana
* * * * * *
Aku tak perlu menjelaskan kenapa aku jatuh cinta. Ada banyak hasrat yang lahir ketika kita memulai untuk mencintai. Dan pada saat yang bersamaan, ada banyak pula ironi yang lindap. Aku sudah mengerti itu jauh-jauh hari. Tak ada lagi yang perlu diurai karenanya.
* * * * * *
Hari itu, tanpa pernah kita saling kenal sebelumnya, senja membiarkan kita sepakat untuk duduk di tubir pantai bersama. Hening. Basah. Sepoi angin dan desir ombak lebih menghanyutkan bagiku ketimbang memikirkan kata-kata apa yang akan kugelar untuk memulai percakapan denganmu. Hampir 20 menit kita diam dalam tanda tanya. Hingga kesabaran tampaknya tak lagi punya batas.
Read the rest of this entry »