<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>MARI PESIMIS!</title>
	<atom:link href="http://bebasnilai.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bebasnilai.wordpress.com</link>
	<description>Hidup hanya menunda kekalahan, dan tahu, bahwa ada yang tak sempat terucapkan...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Feb 2009 19:46:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bebasnilai.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>MARI PESIMIS!</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bebasnilai.wordpress.com/osd.xml" title="MARI PESIMIS!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bebasnilai.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TINTA BERMORAL</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/tinta-bermoral/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/tinta-bermoral/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Begini, kalau tidak salah 3 minggu yang lalu kejadian ini tergelar. Waktu itu saya sedang presentasi makalah pada mata kuliah Agama dan Pendidikan. Makalah saya itu bertemakan tentang moral manusia dalam perspektif pendidikan. Terus terang, saya tidak ikut membuat makalah tersebut. Saya hanya numpang nyontong tok. Isi makalah itu pun saya baru tahu pada hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=39&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begini, kalau tidak salah 3 minggu yang lalu kejadian ini tergelar. Waktu itu saya sedang presentasi makalah pada mata kuliah Agama dan Pendidikan. Makalah saya itu bertemakan tentang moral manusia dalam perspektif pendidikan. Terus terang, saya tidak ikut membuat makalah tersebut. Saya hanya numpang nyontong tok. Isi makalah itu pun saya baru tahu pada hari itu.</p>
<p>Kami (saya dan kelompk saya) sepakat bahwa mata pelajaran “moral” (PMP, PPKN, etc..) tidak diajarkan pada siswa maupun mahasiswa. Tentu saja itu nyeleneh. Kontroversi pun melekat pada makalah tersebut. Tapi kami bukan tidak punya argumen atau sekedar bacot tok. Asumsi kami ialah:<br />
<span id="more-39"></span></p>
<p>1. Sebuah nilai yang diberikan guru atau dosen telah bertransformasi dari sebuah “tanda” menjadi “penanda”. Nilai akademik tidak lagi menjadi asumsi bisu perihal bodoh-pintarnya seseorang, tetapi telah menjadi alat penakar tentang kriteria baik-buruk seseorang dalam menjalani kehidupan. Dalam artian, begini: misal, ada seorang siswa kelas 1 SMA yang mendapatkan nilai merah pada mata pelajaran PPKN-nya, maka pernyataan yang lahir setelahnya ialah, “anak ini bodoh sekali, masa PPKN saja merah. Itu “tanda” bahwa si siswa tadi seorang yang bodoh, dengan asumsi bahwa PPKN adalah pelajaran yang terhitung mudah, akan tetapi dia tidak mampu mempelajarinya sehingga dia mendapat nilai merah di raport. Sekali lagi, itu “tanda”. “Penanda”-nya ialah: “pasti dia siswa yang bejat, cabul, pornois, atheis, hingga mata pelajaran PPKN tidak mampu ia serap.” Opini bodoh seperti itulah yang membuat seseorang (seakan) dapat mengukur bahwa segala nilai kehidupan dapat ditakar lewat nilai-nilai yang termaktub di raport. Bahkan moral sekalipun. Dan bagi kami, saya khususnya, itu ironis, bahkan paradoks. “Tanda” menjadi “Penanda”. Betapa naifnya, saya kira, bila parameter sebuah nilai moral ditentukan oleh warna tinta sebuah pena.</p>
<p>2. Bagaimana moral si guru PPKN sendiri hingga dia berhak memberikan nilai merah pada raport si siswa tadi? Apakah hanya karena dia seorang khatib mingguan saat Jumatan? Apakah karena dia senantiasa berpeci-ria saat mengajar? Atau dia seorang yang sudah 10x naik haji? Bagi saya, itu nonsense. Kita sudah terlampau sering menyimak atau bahkan ikut andil dalam rutinitas penjualan agama, rutinitas kemunafikkan. Perilaku-perilaku amoril yang ditawarkan oleh orang2 yang membawa agama ke jenjang politik, negara, fasilitas perang, dan menjadikan agama sebagai janji irasional yang memuakkan.Dan hasilnya seperti ini: orang merasa yakin untuk tidak beragama. Tidak semua manusia beragama itu suci. Ini saya tekankan karena kita terlampau sering mengukur nilai moral melalui perspektif agama. Terlebih bila ada salah satu dari anda yang terkena sindrom fanatik sebuah agama. Seakan agama yang beda dengan anda ialah kafir, ialah tidak bermoral, pembunuh, setan, yang akan dilaknat Tuhan dan disekap dalam bara neraka tanpa memperhitungkan bahwa dulu dia pernah bermoral juga. Seakan orang yang kritis terhadap agama di cap atheis, tidak ber-Tuhan, komunis. Dalam hal tersebut, timbul pertanyaan: dimana keadilan? Itulah nilai merah moral sebenarnya. Ketika dimana moral dijadikan klaim sepihak dengan hanya menilik melalui 1 perspektif saja.</p>
<p>Sekolah telah salah disini. Sekolah, berikut para pekerja didalamnya telah mendoktrin secara tidak langsung kepada segenap siswa bahwa disanalah nilai-nilai kebenaran lahir, selain, tentu saja, rumah ibadah. Dan orang-orang dengan mainstream naif seperti itulah yang menjadi alasan kenapa banyak dari kita yang menyepelekan moral dan agama. Hemat saya, ada belenggu yang yang sangat besar untuk sekedar mempercayai begitu saja apa makna moral dalam buku-buku sekolah, dari KBBI, dari kata-kata yang keluar dari mulut seorang guru atau dosen, pendeta atau kiyai.</p>
<p>Tulisan ini bakal memuncakkan amarah yang sengit, pikir saya. Maka, bila itu benar, dari sinilah klaim-klaim timbul lewat pelbagai kesalahtafsiran sentimentil. Hujat menghujat senantiasa lahir karena adanya aturan maupun etika yang terlanggar tanpa mempedulikan bahwa sebuah teks tidak hanya didirikan oleh struktur, tapi juga mampu membuat struktur, sekaligus memperkaya tafisr pembaca. Kalau memang terjadi seperti itu, ironi yang menang. Dan kesimpulan pun saya tarik: bahwa bicara moral berarti membicarakan sebuah medan magnetik yang dapat membuat orang berbuat naif, dan lepas kendali. Lalu, lagi-lagi saja nilai merah pada mata pelajaran PPKN ialah salah satu hal yang diyakini sebagai penyebab kenapa banyak orang tidak bermoral dan masuk neraka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=39&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/tinta-bermoral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ETIKA BARU PERBUDAKAN BURUH: MAYDAY!</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/etika-baru-perbudakan-buruh-mayday/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/etika-baru-perbudakan-buruh-mayday/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:45:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Indonesia merayakan perubahan, ada banyak pertanyaan yang mengiringinya. Siapa yang mengawali perubahan itu? Bagaimana prosesnya kelak? Mau kemana perubahan itu dibawa? 1 Mei 2008 esok, kembali, sebuah titimangsa pagelaran akbar dari rakyat kelas pekerja dirayakan. Pada hari itu pula, segenap aktifis dan massa pergerakan, buruh-buruh pabrik dan rakyat miskin kota berlomba meneriakkan apa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=37&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau Indonesia merayakan perubahan, ada banyak pertanyaan yang mengiringinya. Siapa yang mengawali perubahan itu? Bagaimana prosesnya kelak? Mau kemana perubahan itu dibawa?</p>
<p>1 Mei 2008 esok, kembali, sebuah titimangsa pagelaran akbar dari rakyat kelas pekerja dirayakan. Pada hari itu pula, segenap aktifis dan massa pergerakan, buruh-buruh pabrik dan rakyat miskin kota berlomba meneriakkan apa yang selama ini mereka impikan: kesejahteraan. Bersanding dengan megatruh yang mengintai disekeliling mereka, dengan segenap gundah yang membuncah, yang pahit tak tertahankan, mereka menjelma menjadi subyek aktif dengan penuh prakarsa: sekali lagi, menuntut kesejahteraan.</p>
<p>Kita pun mengingat kembali tanggal 1 Mei nanti dengan apa yang telah dilakukan Peter Mcguire pada tahun 1872 di Amerika Serikat. Mcguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey, yang dengan keringat deras meluluri tubuhnya mengajak 100.000 massa pekerja melakukan aksi mogok menuntut pengurangan waktu kerja. Ia pun menderu, melobi, berbicara kesana kemari. Dari pekerja sampai pengangguran, pemerintah kota sampai bos-bos pabrik, menuntut diadakannya kebijakan: pekerjaan dan uang lembur. Aksinya tersebut, tak ayal menimbulkan berbagai kecaman yang membuatnya terkenal. Dengan sebuah pengerucutan kesimpulan baginya: Ia dianggap sebagai biang pengganggu ketentraman masyarakat.<br />
<span id="more-37"></span></p>
<p>9 tahun depa perjalanan ia lakoni, akhirnya Peter Mcguire menghadirkan sebuah ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka. Ide ini muncul setelah sebelumnya ia mendirikan organisasi yang terdiri atas tukang-tukang kayu di Chicago: United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America, dimana ia menjadi sekretaris umum disana.</p>
<p>Dan kita pun tahu bahwa Mcguire berhasil mengutarakan idenya. Pada 5 Sepetember 1882 Amerika Serikat, dengan Mcguire sebagai tokoh sentral, menggelar perayaan parade buruh di New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertuliskan, “8 JAM KERJA, 8 JAM ISTIRAHAT, 8 JAM REKRASI.” Aksi dan gagasan ini pun menyebar ke belahan negara lain. Hingga pada akhirnya tuntutan itu sukses: Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikannya hari libur umum nasional.</p>
<p>Peter Mcguire pun tersenyum. Ia menjadi seorang mahesa dengan segenap rayuan yang menggelegak untuk membuat sadar para manusia yang terlindas deru mesin-mesin di pabrik.</p>
<p>Bagaimana di Indonesia?</p>
<p>Perayaan May Day di Indonesia tidak lebih dari perayaan nasib kelam, perayaan anarkisme yang selalu tumpang tindih, perayaan ketidaksetujuan, dan perayaan yang penuh akan kesalahtafsiran sentimentil.</p>
<p>Ada, seperti yang pernah dikatakan Jean Luc Marion, seorang fisuf Prancis, pemberhalaan konsep, disana. Buruh direduksi sebagai sebuah konsep yang melulu harus diperjuangkan. Seolah, dengan tinggi hati, kita dapat memahami permasalahan buruh hanya dengan sebuah kepastian: kemiskinan. Buruh dikomodifikasi sebagai bagian dari atribut revolusi. Dan selesai sampai disitu. Selesai sampai dimana buruh dijadikan sebuah definisi yang berjarak dengan berbagai macam eskatologi baru yang dijanjikan.</p>
<p>Lelaku seperti ini, menjanjikan surga baru yang dinantikan, adalah sikap yang salah. Ketika kekecewaan makin intens terhadap kerinduan akan surga tadi, maka segala hal ikut dikorbankan, dan akan sangat mudah muncul kekecewaan. Karena dunia tidak akan pernah jadi surga, sehingga ada spiral kekecewaan dan kekerasan yang tak lekang sampai surga tersebut muncul keharibaan para buruh di dunia, tentunya.</p>
<p>Kita pun jadi bertanya-tanya: apa ini kesalahan reformasi? Tidak sepenuhnya benar dan dapat dijawab pasti. Ketika 10 tahun reformasi dinilai gagal, maka itulah kegagalan sepenuhnya. Dalam hal tersebut, demokrasi dilupakan. Mekanisme tentang adanya pengakuan bahwa tidak ada sistem yang sempurna, dibatalkan. Tampaknya kita tidak pernah mau mengerti akan makna kombinasi antara harapan dan ironi. Dan ada kebutuhan akan akal instrumental dalam pemberhalaan konsep.</p>
<p>Kita, hemat saya, telah salah menafsir buruh dan permasalahannya.</p>
<p>Arif Budiman pernah berujar: You fight and you have fun. Ini dimaksudkan bahwa agar kita terus menjaga ironi dan jarak terhadap perjuangan. Agar kita tidak perlu takut menghadapi kekalahan, karena kita masih punya fun. Para duta May Day perlu memasifkan semboyan ini. Karena buruh selalu dipersulit dengan demonstrasi yang tak kunjung padam. Selalu menjadi pesakitan dan simbol kegelepan di Indonesia. Dan ngomong-ngomong soal kegelapan, saya jadi ingat semboyan lain. Kalau tidak salah, semboyan itu ialah semboyan dari kalangan HAM sedunia, bunyinya begini: “Jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin.”</p>
<p>Darimana lilin tersebut? Ia hadir ketika kita sadar bahwa ada jenjang yang telah pasti akan ironi dan harapan. Ia hadir ketika kita sadar bahwa revolusi tidak akan membuat dunia berubah drastis dan buruh-buruh menjadi kenyang perutnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=37&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/etika-baru-perbudakan-buruh-mayday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>R E V O L U S I  ! ! !</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/r-e-v-o-l-u-s-i/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/r-e-v-o-l-u-s-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang membangun revolusi, mempercepat atau memimpinnya menuju ke kemenangan, tetapi ia tidak dapat menciptakan dengan otaknya sendiri.Revolusi ialah yang disebabkan oleh pergaulan hidup, satu hakekat tertentu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=35&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa.</p>
<p>Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang membangun revolusi, mempercepat atau memimpinnya menuju ke kemenangan, tetapi ia tidak dapat menciptakan dengan otaknya sendiri.Revolusi ialah yang disebabkan oleh pergaulan hidup, satu hakekat tertentu dari perbuatan-perbuatan masyarakat.</p>
<p>Jika Diponegoro dilahirkan di Barat dan menempatkan dirinya di muka satu revolusi dengan sanubarinya yang suci itu, boleh jadi akan dapat menyamai perbuatan-perbuatan Crommwell atau Garibaldi. Tetapi ia menolong perahu yang bocor, kelas yang akan lenyap.<br />
Jika sekiranya pulau Jawa mempunyai borjuasi nasional yang revolusioner dan Diponegoro dalam perjuangannya melawan Mataram dan Kumpeni pastilah ia akan berdiri di sisi borjuasi itu.Pengupasan yang cocok betul atas masyarakat Indonesia syarat terutama untuk mendapat perkakas revolusi, dan itu pulalah yang menjadi syarat pertama yang mendatangkan kemenangan revolusi kita.</p>
<p>Revolusi Indonesia sebagian kecil menentang sisa-sisa feodalisme dan sebagian yang terbesar menentang imperialisme Barat yang lalim ditambah lagi oleh dorongan kebencian bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang menggencet dan menghinakan mereka.<br />
Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.</p>
<p>Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putch atau anarchisme hanyalah impian seorang yang lagi demam. Jika kita mau mengumpulkan dan memusatkan tenaga-tenaga revolusioner di Indonesia dengan jalan massa aksi yang tersusun buat merantapkan kemerdekaan nasional, tentulah kita mesti mempunyai satu partai yang revolusioner.</p>
<p>Partai mesti berhubungan rapat dengan massa terutama dalam saat yang penting, dengan segala golongan Rakyat dari seluruh kepulauan Indonesia. Dengan tidak berhubungan seperti itu, tak akan ada pimpinan yang revolusioner. Dengan jalan revolusi dan perang kemerdekaan nasional-lah (yang dapat dimasukkan ke dalam revolusi sosial!!!), maka sekalian negeri besar-besar yang modern, tidak ada kecualinya, dapat melepaskan diri dari kungkungan kelas dan penjajahan.</p>
<p>Revolusilah, yang bukan saja menghukum, sekalian perbuatan ganas, menentang kecurangan dan kelaliman, tetapi juga mencapai sekalian perbaikan bagi yang buruk.<br />
Di dalam masa revolusilah tercapainya puncak kekuatan moril, terjadinya kecerdasan pikiran dan memperoleh segenap kemampuan untuk pendirian masyarakat baru.</p>
<p>Satu kelas atas satu bangsa yang tidak mampu melemparkan peraturan-peraturan kolot serta perbudakan dengan perantaraan revolusi, niscaya musnah atau ditakdirkan menjadi budak buat selama-lamanya.</p>
<p>Revolusi itu menciptakan!!</p>
<p>(Datuk Ibrahim Tan Malaka)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=35&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/r-e-v-o-l-u-s-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AYO BABAT SEKOLAH!</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/ayo-babat-sekolah/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/ayo-babat-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Andai ada mesin pencetak manusia multifungsi tanpa kenal usang, anda boleh sepakat dengan 7 abjad ini: SEKOLAH! Sekolah, seperti yang kita kenal ialah traktat penerabas fenomena involutif alam pikiran manusia. Berasal dari kata Latin skhole yang berarti ‘waktu senggang’, sekolah kini menjadi barang dengan probabilitas yang tak bisa ditawar lagi. Ia begitu dipuja. Dinikmati. Diagung-agungkan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=33&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andai ada mesin pencetak manusia multifungsi tanpa kenal usang, anda boleh sepakat dengan 7 abjad ini: SEKOLAH! Sekolah, seperti yang kita kenal ialah traktat penerabas fenomena involutif alam pikiran manusia. Berasal dari kata Latin skhole yang berarti ‘waktu senggang’, sekolah kini menjadi barang dengan probabilitas yang tak bisa ditawar lagi. Ia begitu dipuja. Dinikmati. Diagung-agungkan. Disembah, barangkali.</p>
<p>Tapi, dibalik kebanggaan kita dengan sekolah, ternyata banyak juga yang beranggapan bahwa sudah saatnya manusia terbebas dari sekolah. Kalau di sebelah anda sekarang ada Roem Topatimasang, pastilah dia akan tersenyum-senyum. Ya, lelaki itulah yang pernah menggegerkan jagat pendidikan Indonesia lewat sebuah pamflet Illichian-nya yang begitu syahdu menggelegar: Sekolah Itu Candu!. Roem membabat habis kesakralan identitas sekolah saat ini dalam bukunya tersebut. Baginya, sekolah sekarang tak hanya layak didedah, tapi juga patut diganyang.<br />
<span id="more-33"></span></p>
<p>Buku ini bermula dari seorang tokoh bernama Sukardal yang hidup ditahun 2222. Dia menemukan setumpuk berkas tua di Museum Bank Naskah Nasional yang termasuk “BACAAN TERLARANG-GOLONGAN A (SANGAT BERBAHAYA)”, berjudul: Sekolah. Judul yang bagi Sukardal kala itu terdengar asing dan samar-samar. Merasa tertantang, Sukardal pun membaca helai per helai naskah tersebut. Dan Sukardal pun membaca…</p>
<p>Dalam “pembacaan” Sukardal tadi, ditambah dengan esai-esai yang memikat, Roem mengajak kita untuk menjelajahi sekolah-sekolah yang memiliki kurikulum yang bebas dari patron baku sekolah-sekolah yang ada. Metode pengajaran yang nyeleneh. Kasus-kasus pendidikan yang memerlukan keadilan, hingga kebobrokan sistem pendidikan yang telah mapan.</p>
<p>Sebutlah Universitas Rockfeller di New York, Amerika Serikat. Di universitas ini jangan harap anda akan menemukan daftar mata pelajaran baku, jadwal jam belajar resmi, kelas-kelas yag dibagi-bagi per tingkat atau per jurusan, ujian kolektif. Semua kebakuan tersebut dijungkirbalikkan dengan: kebebasan mahasiswa dalam memilih dan menetapkan sendiri apa yang mau mereka pelajari dan bagaimana cara yang paling sesuai untuk mempelajarinya! Tapi, jangan dulu anggap bahwa universitas ini universitas sembarangan. Kalau anda pernah mengenal nama-nama seperti David Baltimore, Gerald Edelmann, Theodosius Dobzhansky dan beberapa penemu hebat lainnya, dari sinilah kesohoran mereka lahir. Sayangnya, universitas ‘unik’ ini tertelan dibalik universitas-universitas tersohor di Amerika Serikat, seperti, Cambridge, Harvard, Stanford, MIT, dll.</p>
<p>Roem juga menyadarkan kita dari kebodohan kaum urban dengan menggambarkan suasana di Mantigola, Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara dari segi pendidikan. Disana, bukan murid-murid yang menikmati sarana antar-jemput, tetapi guru-guru mereka! Hebatnya lagi, sarana antar-jemput tersebut bukan sekolah yang menyediakan, tapi murid-muridnya! Keaslian kultur di perkampungan Orang Bajo tersebut disebut Roem sebagai, “hal ‘ajaib’ yang sangat jamak terjadi di negeri yang juga ‘ajaib’.” Dengan menghadirkan kultur tersebut sebagai bagian dalam buku yang tertuju bagi masyarakat urban, Roem sungguhlah sedang mengepal kekuatan subversif dan mengangkat pedang resistensi terhadap pola pendidikan sekarang. Perkotaan khususnya.</p>
<p>Tapi, jangan keburu cepat menilai bahwa Roem ialah seorang anarkis pendidikan yang hanya menawarkan antiserum ekstrim lewat revolusi. Coba tengok bab 9 yang berjudul Involusi Sekolah. Dalam bab tersebut Roem coba memadu-padankan kegeraman terhadap sistem pendidikan yang telah mapan dengan rasio mimikri yang sehat dan intelek. Jika kita menilik kalimat per kalimat, Roem memang terlihat sengaja mengumbar kata-kata yang menohok para petinggi pendidikan Indonesia. Pun dengan sindiran-sindiran yang ditulisnya. ‘Keengganan ideologis’, ‘kebanggaan semu budaya’, atau ‘kemalasan intelektual’ adalah sebagian kalimat yang dibaurkan Roem lewat persinggungan presisi, guna meninju pikiran pembaca agar lekas ‘tersadar’ dari kesalahan sistem yang ada.</p>
<p>Pada bab 11 yang bejudul Sekolah Itu Candu! disinilah saya kira Roem menghadirkan sindiran yang begitu telak terhadap sistem pendidikan kita. Bab ini menceritakan bagaimana bayangan Roem tentang opini orang-orang yang tahu kasus pemecatan Eko Sulistyo, seorang siswa SMA di Yogyakarta. Dia dipecat dari sekolah karena mengumumkan hasil penelitian yang diprakarsai dan dilaksanakannya sendiri tentang pandangan kaum remaja seusianya mengenai kehidupan seksual. Alasan pemecataannya yang dinilai tidak objektif dan terkesan mengada-ngada: penelitian yang dilakukan Eko tidak mendapat izin resmi dari sekolah dan pejabat setempat. Atas hal itulah Roem menutup bab ini dengan mahakata yang begitu Marxis: Sekolah Itu Candu!, karena sekolah dengan kebenaran tak terbatas berhak memvonis salah-tidaknya seseorang.</p>
<p>Puncak kekecewaan Roem terhadap sekolah ditutup dengan epilog: Sekolah Masa Depan. Ini akhir episode dari Sukardal yang telah selesai membaca naskah terlarang tadi. Karena terheran-heran (sekaligus terpengaruh) dengan naskah tadi, Sukardal lantas menghubungi para kerabat-kerabatnya yang terdiri dari tetangga terdekat dan juga seorang profesor untuk menghadiri pertemuan yang diselenggarakannya di Balai Pertemuan RT. Disana Sukardal yang menjadi guru. Mengajari orang-orang yang hadir tentang bagaimana mendapatkan buah labu jenis baru dengan kualitas yang jauh lebih baik. Sang profesor tampak paling bersemangat, sedang Sukardal terus berkelakar. Hingga pada akhirnya kita semua diajak untuk sadar oleh Roem bahwa: Sukardal hanyalah seorang petani!</p>
<p>Kalau Foucault bilang pengetahuan itu mempunyai kekuasaan, maka jelaslah sudah apa yang sebenarnya kita butuhkan dari hegemoni pengetahuan yang menindas: Makar! Dan buku ini layak ditempatkan di posisi teratas. Apalagi yang harus anda pikirkan? Iqra!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=33&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/ayo-babat-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUDISMAN TIDAK SUKA MENANGIS</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/sudisman-tidak-suka-menangis/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/sudisman-tidak-suka-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Sudisman, anggota Polit biro CC PKI, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Mahmilub tahun 1967 dengan tuduhan terlibat peristiwa 1965. Di tahun itu juga ia dieksekusi. Hanya Sudisman yang menjalani proses pengadilan dari 5 pucuk pimpinan PKI. Yang lain lenyap tak tentu rimbanya. Bagaimana mati dan kuburnya pun tak terpastikan. Di samping itu ratusan ribu warganegara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=31&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudisman, anggota Polit biro CC PKI, dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Mahmilub tahun 1967 dengan tuduhan terlibat peristiwa 1965. Di tahun itu juga ia dieksekusi. Hanya Sudisman yang menjalani proses pengadilan dari 5 pucuk pimpinan PKI. Yang lain lenyap tak tentu rimbanya. Bagaimana mati dan kuburnya pun tak terpastikan. Di samping itu ratusan ribu warganegara Indonesia yang tak pernah diadili dan dibuktikan bersalah: baik anggota, simpatisan maupun yang diduga ada hubungan dengan PKI, dibantai, dipenjarakan, atau dibuang ke Pulau Buru. Pada minggu pertama Oktober 1965, 5 dari pucuk pimpinan PKI, cuma Sudisman yang berada di Jakarta sementara 3 orang ada di Jawa Tengah : Aidit, Lukman dan Sakirman sedangkan Nyoto di Sumatra Utara.</p>
<p>Sudisman sendiri sempat melewati masa pelarian dan sembunyi. Pada masa pelarian inilah, ia berhasil membuat Pledoi atau KOK partai. Pledoi Sudisman yang mengatasnamakan Polit Biro CC PKI sendiri diselesaikan di Jawa Tengah, Bulan September 1966. Pledoi Sudisman ini juga dianggap telah mengakhiri pertentangan dalam faksi-faksi PKI akibat G 30 S yang gagal.<br />
Dalam Pledoi itu Sudisman menyatakan:<br />
<span id="more-31"></span></p>
<p>Malapetaka yang telah menimbulkan kerugian berat kepada PKI dan gerakan revolusioner rakyat Indonesia sesudah terjadi dan gagalnya “Gerakan 30 September” telah menyingkapkan tabir yang dalam waktu cukup lama menutupi kelemahan-kelemahan berat PKI. Pimpinan PKI telah menjalankan avonturisme yaitu dengan mudah saja tanpa mengindahkan ketentuan-ketentuan organisasi melibatkan diri ke dalam “Gerakan 30 September” yang tidak berdasarkan kesadaran dan keyakinan yang tinggi massa rakyat. Dan karena itu telah menyebabkan terpencilnya partai dari massa rakyat. Sebaliknya sesudah kalahnya “Gerakan 30 September” pimpinan partai menjalankan garis oportunisme kanan yaitu menyerahkan nasib partai dan gerakan revolusioner pada kebijaksanaan Presiden Sukarno. Ini adalah puncak kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan berat PKI baik di bidang ideologi, politik dan organisasi”</p>
<p>Sudisman, akhirnya tertangkap di daerah terpencil Tomang pada tanggal 6 Desember 1966. Katanya: “Dalam juang terkepung lawan, tepat setahun sesudah Kawan Njoto tertangkap”. Untuk penangkapannya ini ia mengungkapkannya secara puitik:</p>
<p>DISERGAP<br />
Seisi rumah lagi enak nyenyak,<br />
mendadak terperanjat,<br />
bangun terbentak,<br />
oleh gedoran pintu dibarengi derap sepatu,<br />
todongan pistol bernikel menuding-nuding,<br />
mengabakan, ayo jongkok dipojok,<br />
dengan baju celana dalam thok,<br />
alangkah berkesan bagiku adegan ini,<br />
disergap sesaat mentari merekah pagi.</p>
<p>Selama dalam tahanan, anehnya Ia sendiri, tak mengalami siksaan fisik yang berarti seperti yang lain-lain walau seharusnya dialah yang paling bertanggung-jawab. Sudisman menyatakan:</p>
<p>Dari persoalan penangkapan saya menjurus ke pemeriksaan. Saya ingin mengemukakan bahwa saya pribadi tidak pernah mengalami pukulan selama pemeriksaan, malahan hubungan antara pemeriksa dan yang diperiksa berdasarkan saling menghormati dan saling mengerti akan keyakinan masing-masing titik tolaknya, saling menghormati walaupun menganut perbedaan politik. Tetapi tidak demikian halnya jang dialami oleh kawan-kawan saya, sampai-sampai kawan Anwar Sanusi, calon anggota Politbiro CC-PKI dan bekas wakil Sek.Jen. Front Nasional pusat masih dipukul juga, apalagi yang lain. Ragam pukulan hampir menyerupai siksaan sewaktu zaman fasis Jepang, hanya digantung sajalah yang tidak digunakan. Sungguh mengerikan kalau melihat derita akibat pukulan yang dialami kader-kader PKI dan mereka yang dituduh tersangkut dengan G.30.S., padahal ke salahan mereka belum terbukti, dan belum tentu mereka itu bersalah. Belum tentu bersalah tetapi badannya sudah rusak akibat pukulan dan diselomoti (dibakar) dengan nyala rokok, sandal karet yang dibakar, sampai distrom.</p>
<p>Ia pun menyadari ini. Karenanya dalam pembelaannya di mahmilub ia mengemukakannya sebagai Uraian Tanggung Jawab bukan pidato pembelaan karena menurutnya suatu pembelaan harus memiliki persenjataan yang lengkap baik di bidang teori Marxisme-Leninisme maupun di bidang-bidang lainnya. Persenjataan itulah yang justru tidak dia miliki karena persediaan perpustakaan tidak dia miliki dan tidak ada di tangannya.<br />
Pada pengadilan mahmilub itu, sebagai seorang komunis yang bersandar pada pengetahuan Ilmiah, ia pun menolak di sumpah atas nama agama apapun. Dengan rendah hati, ia pun menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa 1965, karena kawan-kawannya lain sudah lebih dulu menempuh “jalan mati”. Untuk ini ia menyatakan:</p>
<p>Mereka berempat telah mati tertembak tanpa “jalan-justisi”. Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat, sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan sikap saya dengan mereka berempat dan memilih “jalan mati”. Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951, dari kecil menjadi besar, dari berpolitik salah menjadi berpolitik benar, dari terisolasi menjadi berfront luas, dari kurang belajar teori menjadi mulai belajar teori Marxisme &#8211; Leninisme, dan karena tidak menguasai teori Marxisme &#8211; Leninisme secara kongkrit kemudian berakhir terpelanting dalam kegagalan’ G-30-S yang membawa kerusakan berat pada PKI. Saya pribadi terlibat dalam G-30-S yang gagal. Kegagalan ini berarti pula kegagalan saya dalam memimpin PKI, sehingga mendorong menjadi unggulnya pihak lawan politik PKI.</p>
<p>Di hadapan pengadilan Mahmilub ini juga ia mengungkapkan kondisi yang senasib antara Bung Karno dan PKI.<br />
Ia menyatakan:</p>
<p>Saya dan PKI tidak pernah memberikan gelar ini atau itu kepada Bung Karno, tidak pernah memberikan agung ini, atau agung itu, sebab gelar satu-satunya jang tepat adalah “Bung Karno” sehingga nama Bung Karno berkembang dari Sukarno (ada kesukaran) ke Bung Karno (artinja bongkar kesukaran). Sebagai sesama orang revolusioner, justru dalam keadaan sulit seperti sekarang inilah saya terus membela dan mempertahankan Bung Karno, sebab sesuatu mengatakan bahwa “in de nood leert men zijn vrien den kennen” (dalam kesulitan kita mengenal kawan) dan “jo sanak, jo kadang, jen mati aku sing kelangan” kata Bung Karno untuk PKI. Sebagai arek Surabaya, saya sambut uluran tangan Bung Karno dengan: “ali-ali nggak ilang, nggak isa lali ambek kancane”. (artinya tidak bisa lupa sama kawannya).</p>
<p>Kenapa saya bela dan pertahankan Bung Karno? Sebabnya ialah sepanjang sejarahnya Bung Karno konsekwen anti Imperialis sampai berani menyemboyankan “go to hell with your aid” terhadap imperialis Amerika Serikat; Bung Karno setuju mengikis sisa-sisa feodal dengan mengadakan landreform terbatas; dan Bung Karno setia pada persatuan tenaga-tenaga revolusioner. Inilah dasar daripada instruksi saya pada anggota-anggota PKI, untuk masuk dan bentuk “Barisan Sukarno”.</p>
<p>Dalam kesulitan seperti sekarang ini berlakulah pepatah Pavlov bagi Bung Karno “a discovery begins where an unsuccessful experiment ends” (suatu penemuan mulai pada saat pengalaman yang tidak sukses berhenti).<br />
Sebagai perpisahannya dan kesiapannya menatap pelaksanaan hukuman baginya, Disman mengutip perkataan penulis Andrew Carve: No tears for Disman &#8211; Tiada airmata bagi Disman. Sedangkan bagi para petugasnya, ia sampaikan: You had done the world a service &#8211; Kalian telah berbuat bakti bagi dunia. Sebagai orang Jawa, ia menyatakan dalam bahasa Jawa yang bernada miris:<br />
Pertama: matur nuwun, terima kasih kepada semua pihak yang telah merasa membantu saya selama berjuang;<br />
Kedua: nyuwun gunging pangaksomo, minta seribu maaf, terutama kepada massa progressif revolusioner jang merasa saya rugikan selama dalam perjuangan;<br />
Ketiga: nyuwun pangestu, minta restu terutama pada semua keluarga istri dan anak-anak dalam saya melaksanakan putusan hukuman.<br />
Ben Anderson yang hadir pada persidangan itu kemudian mengungkapkan:</p>
<p>Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya itu “Uraian Tanggung Jawab.” Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma bilang, “Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatan ini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” Sudisman tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S. Dia cuma bilang bahwa rupanya ada unsur-unsur PKI yang terseret. Dia tidak membicarakan soal Biro Khusus. Tidak membenarkan dan juga tidak membantah adanya. Waktu Syam memberi kesaksian, Sudisman tidak mau melihat mukanya dan tidak mau menjawabnya. Yang jelas, untuk sebagian besar dari saksi-saksi waktu itu informasi tentang adanya Biro Khusus itu sesuatu yang mengejutkan sekali. Jelas mereka sama sekali tidak tahu menahu.</p>
<p>***<br />
Sudisman, pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani itu dilahirkan di Jember, 1920. Sejak mudanya, ia telah berlaku berani menempuh hidup: sebagaimana Sayuti Melok menempelkan Ijazah AMS-nya (SMA) pada blek untuk jual dendeng, demikianlah pula Sudisman, begitu tamat HBS Surabaya tanpa ragu bersumpah di depan seorang gurunya bahwa ia tak akan menggunakan ijazah kolonial itu untuk mencari makan. Ia pun lantas terlibat dalam pengorganisiran buruh.</p>
<p>Sudisman juga dikenal sebagai organisator yang jitu dan cerdik. Seorang jurnalis Soeryono (1927-2000), yang pernah bekerja di Penghela Rakyat di Magelang dan juga anggota Pesindo menjuluki Sudisman sebagai “the King Maker” yaitu Amir Syarifuddin dan DN Aidit. Ia juga seorang intelektual yang tekun dan teliti begitulah minimal di mata Joesoef Ishak dan Joesoef pun mengenalnya sebagai orang yang rajin membawa catatan ke mana-mana, dan kebiasaannya tak lain dari mencatat apa-apa yang dikatakan lawan bicaranya. Ia tak ubahnya sebagai “kamus berjalan” yang bisa dimintai bantuannya bila seseorang lupa atau tak mampu mengingat-ingat suatu hal penting yang ingin dikemukakan.</p>
<p>Sejak sebelum pecah perang kemerdekaan 1945, dia aktif di Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) bersama Amir Syarifuddin, Moh. Yamin,Wikana, A.K.Gani Pada masa Jepang, pada Januari 1943, Sudisman bersama Amir Syarifuddin dan 53 kawannya pun ditangkap. Menurut AM Hanafi, Sekretaris Jendral Barisan Pemuda GERINDO sejak masa di zaman Belanda dan masa pendudukan Jepang, Sudisman adalah Ketua Barisan Pemuda GERINDO Cabang Surabaya. Di penjara di Sragen. Kemudian bebas. Adalah pemuda Sidik Arselan, anggota Pemuda GERINDO, bekas PETA, dengan sepasukan Pemuda P.R.I. (yang ketuanya adalah Sumarsono) yang mendatangi penjara Sragen itu. Selain telah membebaskan Amir Sjarifudin dan Sudisman, mereka juga telah membebaskan semua tahanan lainnya yang ada di situ. Sudisman, menurut AM Hanafi juga, adalah anggota PKI, kadernya Pamudji yang dibunuh Jepang di penjara Sragen. Dari penilainan Hanafi, Sudisman adalah seorang yang tahu menghormati kaum Sukarnois. Karena itu sebagai pejuang Sudisman dikenal sebagai seorang nasionalis yang militan.</p>
<p>Bagaimana situasi revolusi yang bergolak itu? F.C. Fanggidaej, ketika Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 50 menulis:</p>
<p>Kota Yogya mendidih dari semangat dan tekad juang pemuda. Pekik dan salam MERDEKA memenuhi ruang udara kota. Jalan-jalan dikuasai pemuda: kebanyakan berambut gondrong, mereka bersenjatakan pestol, senapang, brengun sampai kelewang panjang Jepang, dan sudah tentu bambu-runcing. Kepala mereka mereka ikat dengan kain merah …. Yah, semangat juang, rasa romantisme dan kecenderungan kaum muda untuk berlagak dan bergaya bercampur dengan sikap serius dan tenang dengan tekad pantang mundur yang terpancar dari mata dan wajah mereka — itulah gambaran pemuda Indonesia Revolusi Agustus 1945. Di dalam gedung Kongres tampak pemuda-pemuda yang baru dibebaskan atau membebaskan diri dari penjara Kenpeitai Jepang Sukamiskin di Bandung, antara lain: Sudisman, Tjugito, Sukarno. Juga Sumarsono, Ruslan Wijayasastra, Soepeno dan Chaerul Saleh. Sambutan Amir Syarifuddin menggambarkan ciri khas suasana politik pada awal Revolusi. Kata Bung Amir: “Hai Pemuda, jika kamu memegang bedil di tangan kananmu, haruslah kamu memegang palu di tangan kirimu. Dan jika kamu memegang pedang di tangan kananmu, peganglah arit di tangan kirimu!”</p>
<p>Selama awal-awal revolusi fisik itu, Sudisman adalah figure pemimpin dalam organisasi para militer pemuda kiri: Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pada tahun 1947, ketika FC Fanggidaej, hendak berangkat ke pertemuan pemuda di Praha, Sudisman sebagai Ketua Pesindo berpesan kepadanya agar dirinya hanya banyak berbicara tentang tuntutan perjuangan. Hanya tentang perjuangan dan situasi perjuangan saja. Tidak ada soal soal lain. Tentang situasi sosial, ekonomi dan sebagainya, itu semua tugas tugas negara. Tugas Pemuda satu saja: yaitu memberitakan dan menjelaskan kepada dunia luar, apa itu Republik Indonesia, apa dan kapan itu Proklamasi Kemerdekaan RI, dan mengapa rakyat Indonesia mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutu. Fanggidaej juga harus menyerukan ajakan dan tuntutan Republik Indonesia pada Dunia : “Stop the War!”</p>
<p>26 Februari 1948, Sayap Kiri menyelenggarakan kongres di Solo. Front Demokrasi Rakyat (FDR) pun terbentuk. Sudisman, Aidit, Njoto dan Lukman lantas mengisi Sekretariat FDR. Sejak masa sekretariat FDR inilah mulai dikenal kesatuan empat serangkai: Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman. Di antara mereka, Sudismanlah yang paling senior. “Kekuatan baru” atau “generasi baru” begitulah keempat serangkai bersama sejumlah pemuda lain menyebut dirinya dan seterusnya akan memimpin PKI pasca peristiwa Madiun 1948 sampai dihancurkannya tahun 1965. Ditambah Ir. Sakirman, Sudisman di sidang Mahmilub tahun 1967 mengatakan: Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951. FDR sendiri mengandalkan kekuatannya pada kaum buruh yang tergabung dalam SOBSI. Sudisman sendiri berakar kuat di kaum buruh. Di samping itu FDR juga mengandalkan kekuatan bersenjata seperti Pesindo dan simpati dari sejumlah besar perwira kunci di dalam TNI (tentara resmi Pemerintah) dan TNI-Masyarakat.</p>
<p>1 September 1948 diumumkan susunan Politbiro CC PKI yang baru. Sudisman pun memimpin departemen Organisasi. Susunan lengkapnya sendiri sebagai berikut: Sekretariat Umum: Musso, Maruto Darusman, Tan Ling Djie, Ngadiman; Departemen Buruh: Harjono, Setiadjit, Djokosudjono, Abdul Madjib, Achmad Sumadi, Departemen Tani: A.Tjokronegoro, D.N.Aidit, Sutrisno; Departemen Pemuda: Wikana dan Suripno, Departemen Wanita: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Pertahanan: Amir Sjarifoeddin, Departemen Agitasi dan Propaganda: Alimin, Lukman dan Sardjono; Departemen Organisasi: Sudisman; Departemen Luarnegeri: Suripno; Departemen Perwakilan: Njoto; Departemen Daerah-Daerah Pendudukan: dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Kader-Kader Partai: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Keuangan: Ruskak. Ketika terjadi pembersihan yang dilakukan Kabinet Hatta pada semua tokoh-tokoh penting PKI akibat peristiwa Madiun 1948, 9 orang dari total 21 orang anggota CC PKI terbunuh. Sudisman, Aidit bersama Lukman dan Nyoto berhasil lolos dari pembunuhan.</p>
<p>Sudisman juga anggota Dewan Harian Angkatan 45. Tanggal 19 Desember 1953 bersama Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Harjoto Judoatmodjo, Bambang Suprapto, Pandu Kartawiguna, Moh. Imamsjafi’ie (Bang Piti) dan Amir Murtono, Sudisman pun terlibat dalam persiapan Musyawarah Besar Angkatan 45 (Mubes ke-II).<br />
Karenanya tak dapat disangkal, Sudisman telah memberikan hidupnya dengan berani. Sudisman pun memberikan kepada rakyat gambaran bagaimana hidup yang bertanggung-jawab dan konsisten. No Tears for Disman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=31&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/sudisman-tidak-suka-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AN ATHEIST</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/an-atheist/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/an-atheist/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Sering saya meminggirkan khayal untuk menjadi seorang bapak nantinya. Berumah tangga. Mengurus bayi dan menjadi mertua. Apa iya sepanjang itu? Dan kini, tepatnya sore tadi khayal itu datang menyerbu. Saya tak bisa menyanggahnya kali ini: saya memang membutuhkan khayalan seperti itu. Setidaknya sekali-kali. 27 Desember 2007. Ini lusa setelah Yesus, Putra Allah mati. Suara-suara gemerlap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=29&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sering saya meminggirkan khayal untuk menjadi seorang bapak nantinya. Berumah tangga. Mengurus bayi dan menjadi mertua. Apa iya sepanjang itu? Dan kini, tepatnya sore tadi khayal itu datang menyerbu. Saya tak bisa menyanggahnya kali ini: saya memang membutuhkan khayalan seperti itu. Setidaknya sekali-kali.</p>
<p>27 Desember 2007. Ini lusa setelah Yesus, Putra Allah mati. Suara-suara gemerlap dari katedral-katedral kapitalisme pun bersahutan. Santa Klaus terjerembab dengan rusa-rusanya. Tapi, tak satu pun orang meratapi bencana yang kian mesra dengan kita. Keakbaran Tuhan kini dipertaruhkan lewat pertarungan identitas. Sang Atheis muncul untuk kemudian berpendar.<br />
<span id="more-29"></span></p>
<p>Christopher Hitchens memberi kita kabar ini lewat bukunya yang terbit dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Ia senada dengan Marx: Agama itu racun, atau dalam kamus Marxisme, Agama Itu Candu. Dan ia tak berjalan sendiri. 2004 lalu juga terbit buku berjudul Letter to a Christian Nation oleh Sam Harris, buku yang memaktubkan semua serangannya terhadap Kristen. Atheis pelatah lainnya pun tak ingin ketinggalan. Richard Dawkins, seorang pakar biologi, menerbitkan The God Delusion, yang mengutip satu kalimat pengarang lain: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”</p>
<p>Belum pernah saya membaca bukunya. Saya hanya tahu dari mulut ke mulut, dan artikel-artikel yang terlampir di internet. Tapi, saya sudah terlanjur membayangkan isinya. Kenapa manusia bisa sampai tak ber-Tuhan? Apa yang salah dengan agama?</p>
<p>Ayat-ayat suci selalu mengajarkan kita tentang kebenaran. Tentang iblis yang wajib dimusnahkan. Sampai pada abad sekarang, di mana iman coba dihadirkan lewat rasio dan ketakutan, ayat-ayat tersebut tak ikut surut. Sakralitas yang terpendar tetap sama. Lagi-lagi, ada apa Tuhan?</p>
<p>Sang Atheis-Atheis itu serentak datang belakangan ini. Dengan mata bedil analisa yang siap membedah, mereka menyeruak, menghimpun kekuatan untuk mendistorsikan setiap agama. Dan mereka menang. Walau sementara, tapi mereka berhasil meludahi berlembar-lembar aya-ayat suci tersebut dalam kurun waktu yang terkira. Iman yang bersumber dari ketakutan ialah kebencian. Dan inilah yang jadi petuah agung setiap pelaku terorisme. Damai dunia runtuh karenanya. Tuding, bunuh, bakar, menjadi barang instan yang wajib dicerna karena sosok-sosok pengecut itu.</p>
<p>Tapi, khayal saya ternyata punya dimensi lain. Sepertinya dunia memang membutuhkan Para Atheis-Atheis tadi. Seakan mereka adalah nalar tujuan manusia untuk memupuskan rasa benci. Agama memang tak menawarkan sekantung emas yang terjun bebas dari langit. Atheis berkebalikan. Mereka mengenyahkan semua omong kosong Tuhan. Langit dikepal. Dan sumpah serapah agama menjadi ayatnya.</p>
<p>Agama adalah ”sebuah pengganda besar”, an enormous multiplier, ”kecurigaan dan kebencian antarpuak”. Dari sini, perlahan kesalahan demi kesalahan mengalir dari apologi yang terkenal itu: bukan agamanya yang salah, tapi manusianya. Menjadi: bukan manusianya yang salah, tapi agamanya. Dan permasalahan terhenti (sementara) sampai di titik tersebut: agama ternyata tak cukup canggih untuk memberikan penyangga bagi keserakahan manusia.</p>
<p>+ + + +</p>
<p>Saya tetap bersinggungan dengan khayal-khayal saya untuk menjadi seorang bapak. Menggurui kenyataan, bahwa manusia memang pantas untuk tak ber-Tuhan.</p>
<p>Semoga khayal saya berhenti sampai di sini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=29&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/an-atheist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RADIKALISASI DOSIS TINGGI</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/radikalisasi-dosis-tinggi/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/radikalisasi-dosis-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja. Bernama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=27&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja.</p>
<p>Bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, kita lebih mengenalnya dengan nama nama Sneevliet. Ia lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Proses berpolitiknya dimulai ketika tahun 1901, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Belanda. Akhirnya, pada usia 20–an, dia mulai berkenalan dengan gelanggang politik. Ia bergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland hingga tahun 1909, yakni sebagai anggota Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911.<br />
<span id="more-27"></span></p>
<p>Di organisasi baru inilah, Snevlieet menunjukkan watak sejatinya, berani, dan tak pernah menyerah. Dia memimpin pemogokan-pemogokan buruh di Belanda, sehingga membuat namanya masuk dalam ‘daftar hitam’ di Belanda. Keberanian ini pastilah membuat rezim takut. Lewat federasi serikat buruh, yang dikuasai oleh pemerintah, dibuatlah cara untuk menekan Snevlieet. Sehingga, jabatan sebagai ketua serikat buruh kereta api cuma setahun dipegangnya. Pada tahun 1912, ia mengundurkan diri, setelah terjadi konflik yang panas antara serikat buruh yang dipimpinnya dengan federasi serikat buruh. Peristiwa itu terjadi setelah terjadinya pemogokan buruh-buruh kapal, di mana Sneevliet berdiri sebagai pimpinan aktif dalam pemogokan itu. Lepas dari aktivitasnya di Serikat Buruh, sempat membuat Sneevliet bimbang, ia bahkan berniat untuk mundur dari ranah pergerakan. Beralihlah dia ke dunia perdagangan, dan inilah jalan yang membawanya berkelana sampai ke Indonesia</p>
<p>Tahun 1913, untuk kali pertama, ia menginjakkan kaki ke Indonesia. Tepat pada saat itu, dunia pergerakan di Hindia Belanda tengah bersemi. Sneevliet, yang pada awalnya bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian di kota Surabaya, mulai terusik untuk kembali berpolitik. Namun saat itu kondisi kerjanya masih belum mapan, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di sebuah perusahaan.</p>
<p>Hasrat politiknya rupanya tak bisa ditahan-tahan. Dia sempat aktif menjadi sekretaris dari Handelsvereeniging (Asosiasi Buruh) di Semarang. Pada tahun 1914, ia mendirikan sebuah organisasi politik yang diberi nama Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Awalnya anggotanya hanya 65 orang, yang kesemuanya adalah orang Belanda dan kalangan Indo-Belanda. Sneevliet masih belum yakin untuk merekrut anggota dari kaum bumi putra. Dalam waktu setahun kemudian, organisasi tersebut mengalami perkembangan pesat menjadi ratusan anggotanya. Perkembangan tersebut tak terlepas dari peranan koran organisasi berbahasa Belanda, Het Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama Semaun, Alimin dan Darsono. Pengaruh ISDV juga meluas di kalngan buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP).</p>
<p>Dalam waktu yang bersamaan, pergerakan di Hindia Belanda tengah mengalami masa terang. Sarekat Islam, terus membesar dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu ISDV, merubah haluan untuk menitik beratkan pengorganisiran pada anggota-anggota maju dari Sarekat Islam, dan inilah cikal bakal generasi pertama perekrutan kader-kader Marxis.</p>
<p>Pada bulan Maret 1917 Sneeveliet menulis artikel berjudul Zegepraal (kemenangan), yang memuliakan Revolusi Februari Kerensky di Rusia dengan kata-kata:Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang mengerakan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri. Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau. Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paksa yang menyesatkan. Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya? Dan tetap bekerja dengan tidak henti-hentinya, meskipun banyak benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit yang tumbuh? Dan tetap bekerja melawan segala usaha penindasan dari gerakan kemerdekaan ini?Maka tidak bisa lain bahwa rakyat di Jawa, diseluruh Indonesia akan menemukan apa yang ditemukan oleh rakyat Rusia: kemenangan yang gilang gemilang.</p>
<p>Organisasi ISDV bergerak cepat dengan strategi mereka untuk merekrut massa dari SI. Pengaruhnya yang kuat ternyata mengkhawatirkan pemerintah Hindia Belanda, sebab pada saat yang sama, pemogokan-pemogokan buruh bertambah kuat dan meluas. Semaun, Darsono dan Alimin, adalah pimpinan-pimpinan SI Semarang yang berhasil direkrut oleh Snevlieet. Mereka punya kesamaan pandangan, prinsip-prinsip ideologi radikal dengan ISDV. Pada akhirnya perpecahan di tubuh SI tak terelakkan, perpecahan antar sayap moderat dan sayap radikal. SI Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis, serta SI Merah yang dikepalai oleh Semaun dan teman temannya.</p>
<p>Kemenangan revolusi Rusia makin banyak jadi bahan perbincangan rakyat. Agar pengaruh ISDV tidak semakin mengeruhkan situasi, yang dikhawatirkan memberi kemungkinan terjadinya pemberontakan rakyat, maka pemerintah Hindia Belanda menyusun rencana untuk menangkap Sneevliet dan menyeseretnya ke pengadilan. Sneeliet pun, pada bulan Desember 1918, akhirnya diusir dari Indonesia karena aktivitas politiknya.</p>
<p>ISDV pun mulai kehilangan kendali akibat para pimpinannya diusir dari Indonesia. Juga mulai dijauhi massa akibat prinsip-prinsip radikal mereka yang masih belum bisa dipahami massa. Semaun pun mengambil keputusan, mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Semaun terpilih sebagai ketua.</p>
<p>Akan halnya dengan Snevlieet, ia diproses oleh jaksa dan hakim Belanda dari pemerintahan Hindia Belanda. Seorang Belanda kontra Belanda; tetapi juga seorang sosialis kontra kolonialis. Di depan pengadilan yang terjadi pada bulan November 1917, ia membacakan pidato pembelaannya setebal 366 halaman. Pidato pembelaanya itulah yang merupakan sumber referensi mengenai ajaran-ajaran sosialisme secara ilmiah, yang dipakai oleh banyak pemimpin-pemimpin bangsa kita. Salah satunya adalah Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno ayang dibacakan di muka Pengadilan di Bandung pada tahun 1930. Pledoi setebal 183 halaman itu jelas-jelas menunjukkan pengaruh yang besar sekali dari jalan pikiran Sneevliet yang dikembangkannya di tahun 1917.</p>
<p>Sejak saat itulah ajaran-ajaran Marxisme meluas di Indonesia. PKI berdiri di Semarang, pada tahun 1920 dengan Semaun-Darsono yang mempeloporinya. Di Surabaya Tjokroaminoto dari Serikat Islam, mulai juga memakai referensi-referensi kiri dan literatur yang disebut oleh Sneevliet di dalam pembelaannya, seperti: artikel Das Kapital-nya Marx.</p>
<p>Berbagai literatur tersebut mulai mulai dicari-cari beberapa aktivis. Ada juga yang berusaha mendapatkannya dengan membeli dan meminjam dari toko buku ISDV, dan dikaji di rumah Tjokroaminoto bersama-sama Surjopranoto, Alimin dan lain-lain. Termasuk salah satunya adalah Bung Karno, pemuda cerdas yang tahun 1916-1920 indekos pada keluarga Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan di Surabaya. Hal tersebut diakuinya dalam sebuah surat yang ditulisnya saat dia menjalani masa pembuangan di Bengkulu, tahun 1941:</p>
<p>“Sejak saya sebagai seorang anak plonco, untuk pertama kalinya saya belajar kenal dengan teori Marxisme dari mulut seorang guru HBS yang berhaluan sosial demokrat (C. Hartough namanya) sampai memahamkan sendiri teori itu dengan membaca banyak-banyak buku Marxisme dari semua corak, sampai bekerja di dalam aktivitas politik, sampai sekarang, maka teori Marxisme bagiku adalah satu-satunya teori yang saya anggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, soal-soal kemasyarakatan.”</p>
<p>Terinspirasi oleh gerakan revolusi yang dilakukan oleh Bolshevik, ISDV mulai mengorganisir kalangan militer dengan membentuk dewan-dewan tentara dan pelaut. Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan sekitar tiga ribu prajurit dan pelaut menjadi anggota gerakan yang kemudian dikenal dengan nama tentara merah. Akan tetapi, tanpa diduga, waktu kemudian berjalan bertolak belakang dengan semangat revolusioner yang tengah berkembang. Revolusi Rusia yang menjadi perspektif bagi tumbuhnya revolusi Eropa dan negeri-negeri lain di Eropa, di belahan Eropa lainnya justru mengalami kekalahan dan diberangus, termasuk di Belanda. Akibatnya kemudian berimbas pula pada pergerakan di Indonesia. Reaksi juga menjalar ke Hindia Belanda, anggota-anggota tentara merah dan anggota ISDV ditangkap dan dipenjara, seiring dengan kekalahan dan gerakan revolusi Belanda. Langkah Sneeviet pun masih belum terhenti. Pada 1920 dia hadir pada Kongres Kedua Komintern di Moskow sebagai perwakilan dari ISDV. Dan dari 1921 hingga 1923 menjadi perwakilan dari Comintern di China. Sekembalinya ke Belanda, dia menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh. Pada tahun 1929, dia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Setelah penggabungan partainya berubah nama menjadi Revolutionary Socialist Workers’ Party, dimana Sneevliet menjadi sekretaris pertama dan kemudian kemudian menjadi ketua hingga 1940. Dia juga sempat menjadi anggota Parlemen dari 1933 hingga 1937. Pada saat perang Dunia Kedua dia memimpin grup pertahanan bernama Marx-Lenin-Luxemburg-Front. Dia kemudian tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1942.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=27&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/radikalisasi-dosis-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIKAYAT BEGUNDAL-BEGUNDAL KOMUNIS</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/hikayat-begundal-begundal-komunis/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/hikayat-begundal-begundal-komunis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Organisasi organisasi pemuda banyak bermunculan pascaproklamasi 17 Agustus 1945. Yang pertama sekali dibentuk bernama Angkatan Pemuda Indonesia (API). Organisasi ini dipimpin oleh seorang pemuda bernama Wikana, seorang sosialis. Ia memiliki seorang assisten bernama DN Aidit. Sebagai sebuah organisasi yang dipimpin seorang sosialis komunis, tak heran jika di tubuh API sering disuntikkan propaganda-propaganda komunisme. Pada 9-11 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=25&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Organisasi organisasi pemuda banyak bermunculan pascaproklamasi 17 Agustus 1945. Yang pertama sekali dibentuk bernama Angkatan Pemuda Indonesia (API). Organisasi ini dipimpin oleh seorang pemuda bernama Wikana, seorang sosialis. Ia memiliki seorang assisten bernama DN Aidit.</p>
<p>Sebagai sebuah organisasi yang dipimpin seorang sosialis komunis, tak heran jika di tubuh API sering disuntikkan propaganda-propaganda komunisme. Pada 9-11 November 1945, API mengadakan kongres pertama mereka di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri hampir seluruh organisasi kepemudaan dari seluruh Indonesia. Di sana, baik Wikana maupun Aidit mengajak seluruh organisasi pemuda untuk bergabung menjadi satu organisasi kepemudaan baru. Nantinya organisasi ini dikenal dengan nama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Tercatat enam organisasi setuju melebur menjadi Pesindo. Mereka adalah API sendiri, Pemuda Republik Indonesia (PRI), Angkutan Muda Republik Indonesia (AMRI), Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI), Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dan Angkatan Muda Pos, Tilpun dan Telegrap (AMPTT). Satu organisasi yang menolak bergabung adalah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).<br />
<span id="more-25"></span><br />
Lima bulan setelah pembentukan PESINDO di kongres Yogyakarta, tiga organisasi pembentuknya menyatakan keluar. Mereka adalah AMPTT, AMKA dan GERPRI. Pada bulan-bulan pertama sesudah proklamasi belum ada partai politik. Kabinet pertama yang dibentuk waktu itu berbentuk presidentil dengan Sukarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil presiden, sekaligus perdana menteri dan wakil perdana menteri. Sutan Sjahrir yang belakangan dikenal sebagai perdana menteri (pertama), sebenarnya mulai aktif di kabinet II. Di situ Sjahrir tak hanya menjabat perdana menteri, tetapi juga menteri luar negeri dan dalam negeri terhitung dari 14 November 1945 sampai 12 Maret 1946.</p>
<p>Pada hari hari menjelang proklamasi, muncul seorang tokoh bernama Ilyas Husein, yang mengaku gembong komunis bekas anak didik Sneevliet, dan baru datang dari luar negeri. Siapa sebenarnya Ilyas Husein? Dialah Tan Malaka yang memakai nama samaran. Setibanya di Indonesia, Tan mengadakan kontak dengan organsisasi-organisasi pemuda dan tak disangka pengaruh orang ini kembali membesar seperti tahun 20-an. Di bulan Oktober 1945, Sutan Sjahrir pernah mengajak Tan Malaka untuk bekerja sama dengan pihak pemerintah dengan menjadi pimpinan Partai Sosialis. Tan menolak. “Saya tak ingin seperti teman Partai Sosialis yang kebanyakan mau berkompromi dengan kapitalis-imperealis,”katanya. Tan sendiri menamakan kelompok Sjahrir, Sukarno, Hatta dan Amir Sjarifudin dengan nama kaum ‘Borjuis kecil.’ Karena mereka selalu mengunakan cara diplomasi dan kompromi. Berbeda dengan kelompoknya yang menjalankan perjuangan bersenjata melalui ‘aksi massa’ dan selalu berprinsip ‘Konsekwen Terhadap Perjuangan’. Tan dan kawan-kawan menamakan kelompok mereka kaum ‘Murba’. Lain ceritanya dengan Muso. Setelah meninggalkan Indonesia tahun 1926, ia kembali ke tanah air tahun 1935. Pada tahun itu ia mendirikan PKI ilegal di Surabaya. Namun, ketika tahun 1943 tentara Jepang menguber-uber pentolan PKI, Muso pun kembali melarikan diri ke Rusia.</p>
<p>Perkembangan partai komunis setelah 1945 erat kaitannya dengan perjanjian Linggarjati dan Renville. Banyak kalangan yang menentang kedua perjanjian yang intinya membatasi wilayah Indonesia. Di antaranya adalah Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) yang diketuai dr. Muwardi. Karena oposisi yang semakin meluas maka kabinet yang memerintah saat itu, KabinetAmir Sjariffudin, jatuh Januari 1948. Pada tahun yang sama, Partai Sosialis pecah menjadi dua. Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia (PSI), sedangkan Amir Sjarifudin menggabungkan diri dengan PKI, PESINDO, BTI, SOBSI, PESINDO dan Partai Buruh. Ketiganya melebur menjadi Front Demokrasi Rakyat (FDR). Partai Komunis Indonesia berdiri kembali secara ilegal tahun 1935 di Surabaya, baru akhir 1945 berani muncul terang-terangan. Tepatnya setelah Muso kembali ke Indonesia, dan tampil dengan konsepnya ‘Jalan Baru bagi Republik Indonesia’.</p>
<p>Sama seperti tahun 1926, gerakan komunis setelah 1945 juga mempengaruhi anggota militer yang waktu itu masih bernama APRI. Diperkirakan 35% anggota APRI sudah terpengaruh komunis. Selain itu orang orang komunis juga membentuk pasukan tidak resmi.<br />
Pemberontakan PKI Madiun 1948</p>
<p>Menjelang pemberontakan PKI Madiun, bisa dikatakan Front Demokrasi Rakyat (FDR), sebagai wadah yang menampung PKI dan partai sejenisnya, sudah memiliki tentara sendiri. Komandannya bernama Djoko Sujono. Setiap hari gembong-gembong komunis, termasuk Muso, mengadakan pidato di sekitar Yogyakarta, Sragen, Solo juga Madiun. Macetnya perundingan antara pihak pemerintah Indonesia dengan Belanda mengenai Renville, menjadi kesempatan bagi gerakan komunis melakukan pemberontakan. Pada 18 September 1948 pemberontakan PKI meletus di Madiun di bawah Muso. Bala tentara FDR yang semula menghadapi Belanda di front segera bergerak ke Madiun untuk memperkuat Muso.</p>
<p>Gerakan PKI ini didukung penuh radio setempat, Gelora Pemuda, yang menyiarkan secara langsung pidato propaganda PKI. Korban-korban terus berjatuhan di Madiun, bahkan sampai Solo. Salah satu korban adalah dr.Muwardi, ketua Gerakan Revolusi Rakyat (GRR), yang menentang Amir Sjarifudin sewaktu masih menjabat perdana menteri dan belum bergabung dalam FDR. Tanggal 19 September 1948, PKI/FDR di bawah Muso memproklamirkan berdirinya ‘Soviet Republik Indonesia’ di Madiun.</p>
<p>Madiun dipermak habis sehingga menyerupai Soviet Republik Indonesia. Walikotanya ditunjuk Abdulmutalib, seorang gembong komunis di Indonesia. Pajak penduduk ditiadakan, karena dianggap tidak mencerminkan suatu negara yang demokratis. Tetapi rakyat diwajibkan mendaftarkan beberapa jumlah emas dan permatanya kepada penguasa. Tidak seorangpun dibolehkan memiliki uang lebih dari limaratus rupiah. Saat pasukan Republik meringsek kedalam kota, pasukan PKI dan para gembongnya kalang kabut lari ke gunung-gunung.</p>
<p>Tinggallah kota Madiun yang bau amis, karena banyaknya mayat-mayat rakyat kecil, pejabat maupun pegawai pemerintahan yang tewas dibantai. Walaupun sudah melarikan diri sampai ke pelosok-pelosok, Muso dan Amir Sjarifudin akhirnya tertanggap oleh pasukan Republik. Muso tewas dalam baku tembak antarpasukan, sedangkan Amir Sjarifudin dihukum mati 19 Desember 1948. Tepat dengan hari agresi militer Belanda I. Pada hari yang sama empat orang gembong PKI yang sempat tertangkap, malah lari dari penjara. Mereka adalah: Abdulmadjid, Alimin, Tan Ling Djie serta DN Aidit. Tapi perhatian TNI waktu itu lebih tertuju untuk mengatasi agresi Belanda dibanding mengejar keempat orang tersebut. Yang jelas, dengan matinya Muso dan Amir Sjarifudin pemerintah waktu itu menyatakan kasus pemberontakan PKI Madiun selesai.<br />
Pemberontakan Tahun 1965</p>
<p>Setelah berhasil melarikan diri, Alimin, Ngadiman, Tan Ling Djie serta DN Aidit mulai kembali menyusun taktik-taktik dan upaya untuk bangkit kembali. Salah satunya cara dengan menerbitkan koran ‘Bintang Merah’ tahun 1950. Koran yang pimpinan tertingginya (Sekertaris Jendral) dipegang langsung DN Aidit ini, menjadi sarana utama PKI kembali melancarkan propagandanya. Belakangan bermunculan Koran-koran lain yang menjadi ’simpatisan’ PKI. Seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti dan Bintang Timur. Koran yang non-komunis di awal 60-an setengah mati mempertahankan diri agar tidak ‘dibredel’ Peperda (Penguasa Perang Daerah). Yang sempat menjadi korban adalah Indonesia Raya. Para wartawan anti-komunis dalam Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS), akhirnya juga dibubarkan berkat lobby DN Aidit ke penguasa saat itu. Bahkan Kantor Berita Antara juga secara penuh dikuasai orang-orang PKI. Akibatnya berita yang masuk dan yang disebarluaskan hanya yang menguntungkan PKI saja.</p>
<p>Agustus 1953, Ali Sastroamijojo memimpin kabinet koalisi dengan PNI sebagai mayoritas. Sedangkan Masyumi, Katolik dan Sosialis menjadi oposisi. Hubungan yang semakin lama semakin buruk antara Masyumi dan PNI dimanfaatkan benar oleh PKI. Partai ini mulai memperlihatkan prestasinya ketika Pemilu 1955 berhasil menghimpun pemilih sebanyak 6.174..914 orang atau 16,4% pemilih di Indonesia.</p>
<p>Pada peringatan HUT PKI, 23 Mei 1965, DN Aidit mengomandokan kepada massa PKI untuk meningkatkan sikap revolusioner mereka. Perayaan yang mirip ‘pamer kekuatan’ ini semakin semarak dengan poster slogan-slogan PKI, seperti ‘Ganyang Kebudayaan Ngak-Ngik-Ngok’ atau’Bentuk Angkatan V’ (buruh dan tani).<br />
Melalui BTI (Barisan Tani Indonesia), SOBSI dan Pemuda Rakyat, PKI juga mulai menggarap desa-desa dan mengeluarkan slogan ‘Tujuh Setan Desa’. Mereka yang disebut setan itu adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa serta pengirim zakat. Setelah slogan ini dipropagandakan, mulailah terjadi pembantaian dan pembunuhan terhadap mereka yang oleh penduduk desa dianggap ’setan’. Dengan maraknya aksi brutal PKI, enam partai mengeluarkan pernyataan yang sifatnya mengecam tindakan PKI. Mereka adalah PNI, NU, Parkindo, Partai Katolik, PSII dan IPKI. Sedang jajaran militer, juga tegas menolak Nasakomisasi di tubuh militer, seperti diusulkan PKI.</p>
<p>Memasuki September, isu-isu kudeta militer yang dikomandoi ‘Dewan Jendral’ semakin santer. Sebagian orang percaya hari ABRI 5 Oktober akan digunakan militer untuk melakukan kup terhadap presiden. Apalagi sejak seminggu sebelumnya, Lapangan Parkir Timur Senayan sudah dipenuh kendaraan parade dan defile militer. Bahkan banyak yang sengaja didatangkan dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.<br />
Dengan dalih menyelamatkan revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi, PKI merencanakan sebuah gerakan yang mereka disebut ‘Gerakan 30 September’. Menurut LetKol Untung, gerakan ini semata-mata gerakan dalam Angkatan Darat yang ditujukan kepada Dewan Jendral yang telah mencemarkan nama Angkatan Darat. Dan ia sebagai anggota Cakrabirawa berkewajiban melindungi keselamatan presiden.</p>
<p>Yang diserahi tugas menculik para jendral tergabung dalam pasukan ‘Pasopati’. Komandannya ditunjuk Lettu Dul Arief. Pasukan disebar ke sasaran masing-masing serentak dan mulai bergerak dari Lubang Buaya pukul 03.00 WIB. Enam orang jendral dan satu orang perwira pertama menjadi korban keganasan PKI.<br />
Surat keputusan No.1/3/1966 yang ditandatangani oleh Letjen Suharto atas nama Presiden Republik Sukarno berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966 yang menyatakan partai komunis sebagai partai terlarang. Tidak hanya itu, sejak itu setiap kegiatan menyebarkan atau mengembangkan faham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme juga dilarang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=25&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/hikayat-begundal-begundal-komunis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU TAHU KAU TAK KEMANA, SHA</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/aku-tahu-kau-tak-kemana-sha/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/aku-tahu-kau-tak-kemana-sha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kupikirkan sekarang disana, Sha? Telah selang 4 tahun kau pergi meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dengan seonggok kesedihan yang entah kapan berujung. Sedang apa kau disana, Sha? Kau ingat, tanggal inilah nafasmu terlantun merdu untuk terakhir kali. Begitu pula dengan doa yang kusulurkan untukmu. Ditelingamu kubisikan sebait cinta, dengan lelehan air mata yang sendu. Dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=22&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang kupikirkan sekarang disana, Sha? Telah selang 4 tahun kau pergi meninggalkanku sendiri. Meninggalkanku dengan seonggok kesedihan yang entah kapan berujung. Sedang apa kau disana, Sha?</p>
<p>Kau ingat, tanggal inilah nafasmu terlantun merdu untuk terakhir kali. Begitu pula dengan doa yang kusulurkan untukmu. Ditelingamu kubisikan sebait cinta, dengan lelehan air mata yang sendu. Dengan senyuman yang palsu. Dengan rintihan tentang apa itu rasanya tidak percaya: kau pergi meninggalkanku. Tepat hari ini, Sha.</p>
<p>Disini, dalam hati, masih segar kuingat bagaimana bulan sabit mengghadiahi kita sebingkis kado romantis.</p>
<p>* * * * * *<br />
<span id="more-22"></span></p>
<p>Seperti senja-senja yang banyak hadir dipantai. Kala itu senja begitu kilau. Matari meranum. Ombak-ombak bersahutan. Kita berdua di tubir panta senja itu. Menyimak dengan khitmad, bagaimana matari perlahan pergi. Berganti dengan bulan sabit yang lancip yang datang dari antah berantah.Dan langit mulai berubah gelap. Dingin kian sesap.</p>
<p>Lambat laun kita pun menjadi semakin mesra. Semakin intim dengan tawa. Kekakuan diawal perkenalan tadi pun lantas surut. Kau jadi sering mengulum senyum. Dan gara-gara senyummu tersebut, maka lahirlah sebuah analogi dariku:</p>
<p>“Coba ambil cermin dari dalam tasmu. Tersenyumlah dan lantas lihat kebulan sabit diatas.”</p>
<p>Kau bingung untuk beberapa detik. Masih tak mengerti apa maksud yang kupinta padamu barusan. Aku masih tersenyum kecil melihat wajah dungumu yang lambat untuk mencerna maksudku.</p>
<p>“Begini” Kataku padamu. Aku mendekat padamu. Kapagut wajahmu dengan 4 buah jariku. Kuhadapkan wajahmu kewajahku. Kutarik pelan bibirmu agar membentuk sesimpul senyum. Lantas…</p>
<p>“Kau lihat kecermin sekarang. Dan kau lihat kelangit setelahnya”</p>
<p>“Sudah. Terus apa hubungannya dengan bulan sabit?”</p>
<p>Kedunguanmu makin buatku gemas. Karena fragmen romantic yang kuharap hadir malam itu malah terhambat karena keterlambatanmu dalam mencerna maksudku.</p>
<p>“Duh.. Kamu ini. Maksudku itu, senyummu memiliki bentuk yang sama dengan bulan sabit. Keduanya memiliki bentuk elips yang nyaris sempurna. Kau pasti senang kan kupuji gini?”</p>
<p>“Ooo.. Aku mengerti. Tapia pa? Aku senang dipuji? Huh..Tanpa kau pujipun aku sudah mengerti kalau bentuik bibirku memang indah”</p>
<p>Kau tertawa lepas. Selepas camar yang hilir mudik menyinggahi kemana angin pergi. Bibirmu yang cantik itu terus kau pegang. Seakan kau takut bulan sabit mencemburui bentuk bibirmu itu.</p>
<p>Aku kembali mendekatimu. Merangkulmu. Kau pun begitu. Sejenak aku menoleh padamu. Menyibak rambutmu yang tergerai karena hembusan angin malam yang merangkak dalam diam. Dingin makin magkak. Dalam beberapa detik aku kembali memagut bibirmu. Kali ini, dengan bibirku, tentu saja.</p>
<p>Ternyata adegan romantis yang kuharap tergelar malam ini hadir sungguhan.</p>
<p>* * * * * *</p>
<p>Disini, di dalam hati, aku masih ingat bagaimana kemesraan kita yang tergelar malam itu. Aku masih ingat bagaimana dengan tuntas aku menlumat habis bibirmu. Seraya membiarkan kau bersandar ke ketiakku.</p>
<p>Aku masih ingat itu.</p>
<p>Kini aku tahu, bagaimana kekekalan yang kau maksud. Kekekalan yang tiada henti merujam habis detik demi detik detak jantungku. Kekekalan tentang kau yang mungkin aku bawa hingga habis pedih perih. Disini aku mendoakanmu, Sha. Kau tak perlu takut aku terbenam dalam kesedihan. Aku tak perlu itu. Sebab aku tahu kau ada disini. Sekarang. Dan membisikkan kata-kata itu:</p>
<p>““Nikmatilah kematian. Karena kematianlah yang membuatmu sadar bahwa cinta tak lagi hanya sebuah laku paradoks. Kematianlah yang membuat kau sadar akan kekekalan. Dan sejak kematian berkenalan denganmu, maka sejak saat itu pula sadar, apa guna mencintai dan dicintai.”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=22&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/aku-tahu-kau-tak-kemana-sha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KAU TAK PERLU SENJA, SHA</title>
		<link>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/kau-tak-perlu-senja-sha/</link>
		<comments>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/kau-tak-perlu-senja-sha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 19:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>03agustus08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bebasnilai.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Kalau memang Jakarta hidup dan matiku Maka itu tak mengapa, sebab ada engkau Yang memilah Menyesap Menunggu Menyatu Hingga tiba kita melaju Kalau memang Jakarta tempatku labuh Itu akan lebih baik Sebab ada engkau disana Yang buatku kasmaran setiapnya Buatku jatuh cinta sediakala Dan sejak itu, aku tak perlu lagi berandai Sebab ada engkau disana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=20&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau memang Jakarta hidup dan matiku</p>
<p>Maka itu tak mengapa, sebab ada engkau</p>
<p>Yang memilah</p>
<p>Menyesap</p>
<p>Menunggu</p>
<p>Menyatu</p>
<p>Hingga tiba kita melaju</p>
<p>Kalau memang Jakarta tempatku labuh</p>
<p>Itu akan lebih baik</p>
<p>Sebab ada engkau disana</p>
<p>Yang buatku kasmaran setiapnya</p>
<p>Buatku jatuh cinta sediakala</p>
<p>Dan sejak itu, aku tak perlu lagi berandai</p>
<p>Sebab ada engkau disana</p>
<p>Ada engkau disana</p>
<p>Ada engkau disana</p>
<p>* * * * * *</p>
<p>Aku tak perlu menjelaskan kenapa aku jatuh cinta. Ada banyak hasrat yang lahir ketika kita memulai untuk mencintai. Dan pada saat yang bersamaan, ada banyak pula ironi yang lindap. Aku sudah mengerti itu jauh-jauh hari. Tak ada lagi yang perlu diurai karenanya.</p>
<p>* * * * * *</p>
<p>Hari itu, tanpa pernah kita saling kenal sebelumnya, senja membiarkan kita sepakat untuk duduk di tubir pantai bersama. Hening. Basah. Sepoi angin dan desir ombak lebih menghanyutkan bagiku ketimbang memikirkan kata-kata apa yang akan kugelar untuk memulai percakapan denganmu. Hampir 20 menit kita diam dalam tanda tanya. Hingga kesabaran tampaknya tak lagi punya batas.<br />
<span id="more-20"></span></p>
<p>“Kulihat kau suka sekali melihat langit. Ada apa memang dengannya?”</p>
<p>Aku ingat petuah seorang kawan: “Kau harus sok tahu bila ingin membuka percakapan dengan seorang wanita yang kau sukai.”</p>
<p>“Tidak juga. AKu hanya bingung apa yang harus aku lakukan disini.”</p>
<p>Bak ditinju bogem mentah jutaan kali mendengar jawabnya.</p>
<p>“Ooo.. Jadi ternyata kau mengharapakan sebuah percakapan denganku?”</p>
<p>Ia menoleh dengan dahi yang terlipat.</p>
<p>“Menurutmu? Kau kan yang merayuku kesini, lantas buat apa kalau aku hanya kau diamkan?”</p>
<p>Mendengar kata “merayu” dari mulutnya aku tersenyum kecil. Ternyata tak salah kalau banyak orang mengatakan bahwa wanita memang hidup dengan rayuan lelaki.</p>
<p>“Aku jadi semakin mengerti. Ternyata kau sedari tadi memang menunggu untuk mengobrol denganku.”</p>
<p>“Terserahlah!”</p>
<p>Lipatan di dahinya makin kentara.</p>
<p>Dia terus diam. Dan aku juga terus bingung. Dalam momen seperti ini, penting bagiku untuk merokok. Sialnya, dia tak suka lelaki perokok! Hingga beberapa menit akhirnya kugelar percakapan lagi.</p>
<p>“Kau tahu, baru beberapa tahun belakangan ini saja aku sadar bahwa senja memang indah. Ombak memang cantik. Keduanya memang serasi, dengan temaram malam sebagai segelas anggurnya. Tapi aku jarang dapat menikmatinya. Terlebih bila bersama dengan seorang wanita.”</p>
<p>Ia menoleh kembali. Tapi tidak dengan dahinya yang terlipat. Dengan senyuman.</p>
<p>“Aku tidak menyukai senja. Senja bagiku seperti sebuah momen dimana segala harap menjadi punah. Sebab ia hanya menghadirkan matahari yang terlelap. Malam yang gelap. Dan sepi, juga muram. Bagiku, subuhlah waktu yang lebih tepat untuk menikmati hari. Ketika matahari dengan gagah membangunkan kita dengan sebuah harap yang selalu baru, tiada tuntas. Seakan ia datang hanya untuk kita. Persis ketika kau merasakan bagaimana seseorang datang menjemputmu untuk kemudian mengajakmu memukuli seseorang. Ada tantangan yang lahir. Kita tidak menerima khayalan ketika matahari terbit.”</p>
<p>Aku terdiam dengan khitmad.</p>
<p>“Bagaimana menikmati matahari terbit?”</p>
<p>“Terima tantangannya! Hadapi tanda tanya yang disemburkannya ke jendela kamarmu. Tidak seperti senja yang hanya menghadirkan sebiji ekstase. Membuat manusia hanya termangu, berharap ada skenario romantis yang hadir pada saat bersamaan.”</p>
<p>Ia tetap mengahadap kelaut. Tampaknya senja pernah melukainya. Aku masih tak mengerti. Dan terus terang, aku setengah mengabaikannya. Perhatianku lebih tertuju pada gerai rambut yang menutupi separuh wajahnya. Nyiur sekali menatapnya. Sampai satu ketika…</p>
<p>“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?”</p>
<p>“Dalam hal apa?”</p>
<p>“Apa saja dalam hidupmu.”</p>
<p>“Apa ya? Hmm… Miskin? Mengalami kelainan seks? Divonis mati? Apa dong? Banyak sekali versi menyakitkan tentang hidup menurutku. Tak bisa kupilih. Apalagi kuterka. Karena aku tak pernah yakin ada manusia yang dapat memilih hal apa yang paling menyakitkan baginya.”</p>
<p>Senyum kembali menyimpul bibirnya.</p>
<p>“Ketika kau tak lagi percaya pada harapan. Itulah hal yang paling menyakitkan. Ketika satu waktu kau percaya, bahwa kau tak pernah lagi percaya pada anugerah, motivasi, doa, tapi kau tetap meyakini Tuhan sebagai pemberi harap.”</p>
<p>* * * * * *</p>
<p>Disini, kembali di tubir pantai, aku menyadari apa yang kau katakan 3 tahun lalu. Kaulah perempuan yang padamu aku tersadar: bahwa ada saat dimana segala doa dan asa lebur dalam kuasa takdir. Tak lagi punya makna. Dalam persinggungan seperti itu aku hanya dapat meratapi ironi tanpa pernah diberi kesempatan sekali pukul.</p>
<p>3 tahun lalu kau pergi tanpa jejak. Meninggalkanku sendirian dipinggir liang. Tak pernah lagi datang. Kau pergi dengan putus harap. Dengan unduhan tangis yang meratap. Dengan ketidakadilan yang kekal. Dengan perih yang tak tertahankan. Dengan kanker yang menggerogoti otak.</p>
<p>3 tahun lalu pula kau disini bersamaku. Menikmati fajar yang bangun selaksa gundam raksasa. Kau berlari kesana kemari. Mengajakku membasahi tubuh dengan laut yang tak pernah surut. Tertawa lepas. Padahal aku dan kau tahu, bahwa sebentar lagi Izrail datang menjemputmu dariku. Kau tak peduli, karena kau sadar, kecintaanmu pada fajar tak bisa kau lawan, sebagaimana kanker keparat yang melabelimu sebagai pesakitan.</p>
<p>Disini pula, tepat 3 tahun yang lalu, kau kembali berkata padaku:</p>
<p>“Nikmatilah kematian. Karena kematianlah yang membuatmu sadar bahwa cinta tak lagi hanya sebuah laku paradoks. Kematianlah yang membuat kau sadar akan kekekalan. Dan sejak kematian berkenalan denganmu, maka sejak saat itu pula sadar, apa guna mencintai dan dicintai.”</p>
<p>Maka memang benar, sejak saat itu pula aku mengerti kenapa kau lebih memilih fajar ketimbang senja. Karena fajarlah satu-satunya harapan yang bisa kau unduh. Kau gapai. Tentang bagaimana menghadapi dunia ini dengan lantang, walau setiap kita menghadapinya, kita hanya menjadi seekor sisifus, lemah tak berdaya.</p>
<p>Dan kau membuktikannya pada 3 tahun lalu.</p>
<p>Selama itu pula aku akan yakin untuk selamanya: kau tak pernah meninggalkanku.</p>
<p>* * * * * *</p>
<p>……</p>
<p>Maka itu tak mengapa, sebab ada engkau</p>
<p>Yang memilah</p>
<p>Menyesap</p>
<p>Menunggu</p>
<p>Menyatu</p>
<p>Hingga tiba kita melaju</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bebasnilai.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bebasnilai.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bebasnilai.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bebasnilai.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bebasnilai.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bebasnilai.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bebasnilai.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bebasnilai.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bebasnilai.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bebasnilai.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bebasnilai.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bebasnilai.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bebasnilai.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bebasnilai.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bebasnilai.wordpress.com&amp;blog=6664566&amp;post=20&amp;subd=bebasnilai&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bebasnilai.wordpress.com/2009/02/20/kau-tak-perlu-senja-sha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6926e82fe9a8394016e08efc9892cfec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">03agustus08</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
