MARI PESIMIS!

Hidup hanya menunda kekalahan, dan tahu, bahwa ada yang tak sempat terucapkan…

POTRET BINAR MONOLOG KESADARAN

“Biar kukatakan apa yang akan dan tidak akan kulakukan. Aku tidak akan menuruti apa-apa yang tidak lagi kupercayai, biarpun ia menyebut diri rumahku, ibu pertiwiku, atau gerejaku: dan akan kucoba mengungkapkan diri dengan gaya hidup atau gaya berkesenian sebebas yang kubisa dan setotal yang kubisa, sambil menggunakan satu-satunya senjata yang akan kuijinkan bagi diriku sendiri—diam diri, pengasingan, dan kecerdikan.”

Kata-kata itu tertulis dalam novel berjudul A Potrait of the Artist as a Young Man. Sebuah novel dari seorang sastrawan kelahiran Rathgar, Dublin, Irlandia, 2 Februari 1882. Ia adalah salah seorang novelis jenius yang pernah dilahirkan peradaban barat. Ia juga merupakan salah seorang pelopor prosa modern yang memiliki andil besar dalam melebarkan sayap teknik menulis dalam sastra, untuk kemudian banyak menerbitkan novelis serta pemikir-pemikir kontemporer lainnya: stream of consciousness (arus kesadaran).
Read the rest of this entry »

ME#1

Kawan-kawanku hadir dari segenap penjuru. Di Taman Kanak-Kanak aku mengenal Rolando, Nani, Merry, Iwan, dan masih banyak lagi nama yang kulupa. TK ku ini tak beda jauh dengan TK-TK yang lain (tapi bukan TK-TK para borjuis kecil itu lho) di Jakarta. Luas sekolah yang tak terlalu sempit, juga tak terlalu luas. Dengan warna cat tembok hijau muda disertai dengan coretan-coretan di dinding khas bocah kecil: gambar pemandangan yang absurd, bentuk-bentuk manusia aneh menurut khayal mereka (bahkan ada dulu kawanku yang bernama Memet yang hobi sekali menggambar ibu hamil), TK itu sangatlah ”TK”.

Setiap hari aku berangkat selalu diantar ibu naik sepeda. Dan seperti anak TK pada umumnya, aku selalu merengek ketika ibu pergi meninggalkanku. Tapi, ibu memang baik, ia selalu membungkam rengekanku dengan sepotong roti daging, dan sebotol teh manis yang sudah ia persiapkan sedari pagi. Lantas, ia pun berlalu begitu saja. Menyisakanku punggungnya yang menghilang dengan kayuhan sepeda yang kian lama kian menitik. Sejak saat itu, punggung bagiku seperti sebuah isyarat kesedihan. Sebuah sinyal yang menandakan bahwa ada yang hilang tersesap secara perlahan.

Di TK untuk pertama kalinya aku merasakan apa itu namanya disorientasi. Aku tak mengerti tujuanku kesana. Semua sibuk bernyanyi, bermain, menangis, bahkan ada yang buang hajat segala. Aku hanya sibuk berdiam diri. Melabuhkan diriku pada tembok hijau untuk menyender. Bosan sekali rasanya. Seringkali aku mengadukan hal tersebut pada ibu ketika hendak pulang. Terlebih bila aku melihat segerombolan orang berbaju warna merah putih. ”Aku ingin kaya gitu, bu!”, ujarku. Tetapi ibu hanya membalas dengan senyuman, ”belum waktunya, nak”, ibu hanya membalas demikian. Dan aku pun diam saja, menyuntuki diri karena tidak mengerti apa yang dimaksud ibu tadi.

Read the rest of this entry »

« Newer entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.